Doa Khatam Al-Quran Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Do’a Khatam Al-Quran – Kaum muslimin di negara kita memiliki kerutinan mengkhatamkan Al Qur’an, maksudnya membaca Al Qur’an seluruhnya sampai tuntas. Yang paling seringnya dicoba di bulan Ramadhan penuh barokah. Setelah khatam terdapat do’a yang kerap dibaca yang pasti di antara kita sempat mendengarnya,

اللهمارحمنيبالقرآن,واجعلهليإماماً,ونوراً,وهدىورحمةً,اللهمذَكِّرْنيمنهمانسيت,وعلّمنيمنهماجهلت,وارزقنيتلاوتهآناءالليل,واجعلهليحجةياربالعالمين

“Allhummarhamni bilqur’an. Waj‘alhu li imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu ma nasitu wa‘allimni minhu ma jahiltu warzuqni tilawatahu aana-allaili waj‘alhu li hujatan ya rabbal‘alamin”.

Artinya : Ya Allah sayangilah saya dengan karena Al Qur’an dan jadikanlah Al Qur’an untukku bagaikan pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah saya akan ayat-ayat al Qur’an yang kulupa, ajarilah saya tentang isi Al Qur’an yang tidak saya tahu serta berilah saya nikmat agar bisa membacanya di waktu malam. Jadikanlah Al Qur’an sebagai pembelaku wahai tuhan semesta alam.

Bagaimana dengan do’a di atas ? Kemudian apakah ada tuntunan ataupun do’a spesial sehabis mengkhatamkan Al Qur’an? Ikuti bahasan simpel berikut.

Perlu diketahui bahwa dalam ajaran nabi kita–shallallahu‘alaihi wa sallam–tidak terdapat do’a spesial sehabis mengkhatamkan Al Qur’an.

Apalagi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun ataupun pula para imam yang terkemuka tidak mengarahkan do’a spesial kala itu. Ada pula katanya terdapat do’a spesial seperti yang termaktub di akhir mushaf Al Qur’an, apalagi ini ditumpukan pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah-, perihal itu sama sekali bukanlah benar.

[Lihat Fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 14/ 226].

Berbagai Do’a Khatam Al Qur’an

Do’a khatam Al Qur’an terdapat 2 macam. Ada yang membacanya setelah mengkhatamkan Al Qur’an ketika shalat, terdapat pula yang membacanya sebab sudah mengkhatamkan di luar shalat. Mengenai do’a sebab mengkhatamkan Al Qur’an dalam shalat, hingga ini sama sekali tidak terdapat asal usulnya.

Ada pula untuk mengkhatamkan Al Qur’an di luar shalat, hingga terdapat riwayat dalam hal ini sebagaimana yang dipraktekkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu. Nantikan riwayat Anas di akhir bahasan.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah sempat ditanya, “Apa hukum membaca doa khatam Qur’an pada shalat malam di bulan Ramadhan?”

Syaikh rahimahullah menanggapi, “Aku tidak mengetahui adanya tuntunan Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam menimpa do’a khatam Al Qur’an ketika shalat malam di bulan Ramadhan. Saya juga tidak mengetahui dari para sahabat akan hal ini.

Yang ada merupakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu, di mana Anas kala mengkhatamkan Al Qur’an, dia mengumpulkan keluarganya, kemudian mendo’akan kebaikan untuk mereka. Serta ingat ini dilakukan sebab mengkhatamkan Al Qur’annya di luar shalat (bukan di dalam shalat).[Fatawa Arkanil Islam, hal. 354]

Riwayat Hadits Senandung Al Qur’an

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mempunyai risalah yang berguna dalam perihal ini, dengan judul “Juz-u fii Marwiyaat Do’a khatam al Qur’an, wa Hukmuha Dakhilus Sholah wa Khorijuha” (Bahasan spesial tentang riwayat-riwayat do’a khatam Al Qur’am, serta gimana hukumnya di dalam serta luar shalat).

Di dalamnya dia rahimahullah menyinggung do’a “Allahummar hamnii bil qur’aan…”, yang lebih ma’ruf di golongan kita disebut dengan “senandung Al Qur’an”. Bagaimana status riwayat do’a tersebut? Benarkah shahih dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam?

Perlu diketahui bahwa hadits yang membicarakan do’a tersebut tercantum hadits mu’dhol yang dibawakan oleh Daud bin Qois. Hadits mu’dhol merupakan di antara hadits yang lemah sebab sanadnya terputus, yaitu terdapat 2 perowi terputus secara berturut-turut.

Sedangkan Az Zarkasyi dalam buku Al Burhan 1/ 475 berkata kalau hadits di atas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Dala-il An Nubuwwah.


Akan tetapi saya tidak menjumpai hadits tersebut dalam kitab Dala-il An Nubuwwah yang dicetak tahun 1405 H. Hadits di atas pula disebutkan oleh Al Ghafiqi dalam kitabnya Fadha-il Al Qur’an-yang masih berbentuk manuskrip-, akan tetapi dia tidak mengatakan siapa yang meriwayatkannya sebagaimana kebiasaan beliau.[Juz-u fii Marwiyaat Do’a khatam Qur’an[1], hal. 256-257]

Macam Riwayat Do’a Khatam Al Qur’an

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, dia katakan bahwa riwayat tentang do’a khatam Al Qur’an terdapat 3 macam:

Pertama, riwayat yang menunjukkan bhwa do’a khatam Al Qur’an merupakan di antara waktu diijabahinya (terkabulnya) do’a. Riwayat tersebut berasal dari Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu, terdapat 2 riwayat. Juga ada dalam riwayat Ibnu‘Abbas radhiyallahu‘anhuma, Jabir radhiyallahu‘anhu, Al‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu‘anhu, perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu‘anhu, serta perkataan Mujahid rahimahullah.

Kesimpulan Syaikh Bakr Abu Zaid mengenai berbagai riwayat pertama ini, “Tidak terdapat satu juga hadits yang shahih dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam yang membicarakan kalau doa khatam Qur’an merupakan do’a yang mustajab.

Hadits yang menerangkan perihal itu boleh jadi mawdhu’ (diriwayatkan oleh seorang pendusta) ataupun cuma perkataan Jabir. Tidak ada yang shahih kecuali cuma perkataan Mujahid (yang cuma seorang tabi’in).”[Juz-u fii Marwiyaat doa khatam Qur’an, perihal. 264]

Kedua, riwayat yang menarangkan adanya do’a khusus setelah khatam Al Qur’an (sebagaimana senandung qur’an yang sudah kami singgung di atas, pen). Perihal ini ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiyallahu‘anhu, Wazir bin Hubaisy dari ‘Ali radhiyallahu‘anhu, Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, hadits mursal dari‘Ali bin Al Husain rahimahullah, hadits mu’dhol dari Daud bin Qois rahimahullah.

Syaikh Bakr Abu Zaid menarangkan mengenai berbagai riwayat yang membicarakan ada do’a khusus setelah khatam Al Qur’an, “Ada yang berasal dari hadits Abu Umamah radhiyallahu‘anhu, dalam sanadnya terdapat perowi yang pendusta (hadits mawdhu’).

Ada pula dari hadits Abu Hurairah, tetapi tidak dikenal siapa yang mengeluarkan hadits itu. Ada pula hadits dari‘Ali bin Al Husain yang hukumnya mursal (seseorang tabi’in mengatakan langsung dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, pen) serta di dalamnya juga terdapat perowi yang dituduh berdusta serta dituduh berpaham Rofidhah (Syi’ah).

Juga terdapat hadits dari Daud bin Qois di mana haditsnya mu’dhol (2 orang perowi yang berturu-turut terputus, artinya sanadnya tidak bersambung, pen). Begitu pula hadits Wazir bin Hubaisy dari‘Ali sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu An Najaar dalam “Dzail Tarikh Baghdad”, tetapi nyatanya tidak terdapat dalam cetakan kitab tersebut. Serta apabila disandarkan pada kitab tersebut, itu telah menampilkan dho’if (lemah)-nya.”[Juz-u fii Marwiyaat Do’a Khatam al Qur’an, perihal. 264]

Intinya, berbagai riwayat kedua ini tidak terdapat satu juga yang shahih, seluruhnya bermasalah. Sehingga kita katakan kalau tidak terdapat hadits shahih yang membicarakan adanya do’a khusus setelah khatam Qur’an.

Ketiga, riwayat yang menarangkan dikumpulkannya keluarga serta anak-anak lalu berdo’a kebaikan buat mereka. Riwayat ini dari Anas radhiyallahu‘anhu secara marfu’ (sabda Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam) serta mauquf (perkataan sahabat), juga terdapat riwayat dari Ibnu‘Abbas radhiyallahu‘anhuma.

Syaikh Bakr Abu Zaid membicarakan mengenai berbagai riwayat terakhir ini, “Riwayat yang membicarakan dikumpulkannya keluarga serta anak-anak ketika khatam Al Qur’an (kemudian berdo’a kala itu, tanpa do’a yang dikhususkan, pen), hingga riwayat tersebut berasal dari perbuatan sahabat–yang mulia-Anas radhiyallahu‘anhu.

Sedangkan bila dikatakan itu dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, hingga riwayat tersebut tidak shahih (intinya, cuma perbuatan sahabat Anas saja, pen).

Serta dalam atsar Ibnu‘Abbas radhiyallahu‘anhuma yang menerangkan perihal yang sama terdapat‘illah (cacat di dalamnya), yaitu terdapatnya inqitho’ (terputus) serta dalam sanadnya terdapat perowi matruk (yang dituduh berdusta).”[Juz-u fii Marwiyaat Do’a khatam al Qur’an, perihal. 264]

Kesimpulan Doa Khatam A-Qur’an

Yang tepat, asal do’a sehabis khatam Al Qur’an tidak diterangkan dalam satu hadits juga dari Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, yang terdapat cumalah riwayat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu yang jadi perbuatan dia. Riwayat Anas tersebut diriwayatkan oleh Tsabit Al Banani, Qotadah, Ibnu‘Athiyah dan selainnya,

كَانَإِذَاخَتَمَالْقُرْآنَجَمَعَأَهْلَهُوَوَلَدَهُ،فَدَعَالَهُمْ

“Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu sempat ketika khatam Al Qur’an mengumpulkan keluarga serta anaknya, kemudian Anas berdoa buat kebaikan mereka.” (HR. Ibnul Mubarok, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Nashr, Ibnu‘Ubaid, Ibnu Adh Dhurais, Ibnu Abi Daud, Al Faryabi, Ad Darimi, Sa’id bin Manshur, Ath Thobroni, Al Anbari. Al Haitsami katakan kalau dalam periwayat dalam sanad Thobroni merupakan tsiqoh, kredible. Syaikh Al Albani katakan kalau dalam riwayat Ad Darimi sanadnya shahih)

Dalam kesimpulan terakhir, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menarangkan, “Riwayat dalam permasalahan do’a sehabis khatam Al Qur’an tidak shahih sama sekali bila disandarkan pada Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam.

Simaklah bagaimana berbagai kitab-kitab ulama Islam yang populer seperti kutubus sittah, Muwattho’, musnad Ahmad, berbagai tulisan ulama dalam Bab dzikir (seperti Ibnu Daqiq Al‘Ied dalam Al Ilmam, Al Majd Ibnu Taimiyah dalam Al Muntaqo, Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom, serta selebihnya), dalam kitab-kitab tersebut tidak menerangkan adanya (khusus) do’a khatam Qur’an.”[Juz-u fii Marwiyaat doa khatam Qur’an, perihal. 265]

Jika ada yang mempraktekan seperti Anas bin Malik, yaitu dengan mengumpulkan keluarga kemudian mendo’akan kebaikan untuk mereka, maka itu baik. Do’anya ini sifatnya umum serta tidak dikhususkan pada satu do’a saja.

Wallahu waliyyut taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Tinggalkan komentar